Fakta dan Rumor di Balik Kisah Tragis Marry Grace dan Dua Jenasah Bayi di Lela

Fakta dan Rumor di Balik Kisah Tragis Marry Grace dan Dua Jenasah Bayi di Lela

Posted by at 6 February, at 10 : 51 AM Print

inilahFLORES – Sejak 27 Januari lalu, berita tentang ditemukannya tiga sosok jenasah yang dikuburkan diam-diam menyeruak. Dua lubang digali. Satu lubang berisi jenasah seorang bayi dan pada lubang berikut berisi jenasah satu perempuan dewasa dan satu bayi. Berikut beberapa informasi di balik penemuan tiga jenasah tersebut yang berhasil dihimpun Redaksi inilahflores.com:

Jenasah perempuan dewasa itu bernama Marry Grace

Marry Grace adalah mantan suster dari ordo SSpS. Dia pernah bertugas di RS St Elisabeth Lela. Kabarnya, karena kedekatannya dengan HJM, dia mengundurkan diri dari tarekatnya. Setelah dikeluarkan, dia masih bekerja di RS Elisabeth Lela hingga akhirnya dinyatakan hilang pada 2002 lalu.

Marry Grace mempunyai nama asli Yosephine Karedok Payong. Ada tradisi dalam tarekat kesusteran, setiap biarawati yang mengikrarkan kaul kebiarawatiannya harus berganti nama. Marry Grace diduga adalah nama karena tradisi tersebut.

Berbagai bukti telah menguatkan bahwa jenasah perempuan dewasa itu adalah Marry Grace. Bukti-bukti itu di antara cincin yang masih utuh dan bertuliskan nama MG, kawat dan gigi palsu yang dipasang oleh teman sejawatnya di RS Elisabeth.

Dua anak itu berjenis kelamin laki-laki

Sumber inilahflores yang dekat dengan keluarga MG mengatakan, kuat dugaan bahwa kedua anak yang ikut dikuburkan itu adalah anak dari MG dan HJM. Keduanya disinyalir berjenis kelamin laki-laki. MG melahirkan kedua anak itu di kamar HJM. Belum jelas siapa yang membantu melahirkan kedua bayi tersebut. Tetapi, ada yang mengatakan MG menolong dirinya sendiri untuk bisa melahirkan kedua anak tersebut.

Kedua anak itu lahir pada waktu yang berbeda. Anak pertama diduga sekitar tahun 2008/2009, menyusul anak kedua pada 2002.

Sebab akibat kematian kedua anak itu masih dalam proses penyelidikan. Tetapi, dari informasi yang beredar, ada dua versi penyebab kematian dua anak tersebut. Pertama, mati dicekik dan kedua, mati karena dibenturkan atau dihantam benda keras.

Tempat kejadian dikenal sebagai Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lela

Locus penguburan dan diduga pembunuhan yang terjadi dalam periode 2008 – 2002 adalah sebuah tempat bernama Tahun Orientasi Rohani. Tempat ini digunakan Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Denpasar, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Larantuka untuk menggebleng calon-calon pastor sebelum mereka memulai pendidikan Filsafat Teologi di STFK Ledalero.

Setelah calon-calon pastor ini menamatkan pendidikan SMA di seminari-seminari, dalam satu tahun di TOR Lela mereka dibimbing dalam orientasi untuk mendalami makna rohani dan misi perutusan sebagai calon imam projo. Setelah setahun di Lela, mereka akan ke Ritapiret, rumah induk sekaligus asrama untuk calon pastor projo.

 Karena jumlah yang semakin menyusut, saat ini TOR Lela telah dialihfungsikan menjadi tempat pendidikan untuk Akademi Keperawatan (Akper).

Tersangka diduga HJM alias Herder

HJM telah menyerahkan diri ke Polres Sikka pada Senin (4/2/2013) lalu. Dia terbang dari Kalimantan, posisi terakhir keberadaannya. Dalam kontak dengan sejumlah kerabat dan kenalannya sejak kasus tersebut terungkap, dia memang berniat menyerahkan diri dan mengakui perbuatannya. Polisi dari Kesatuan Polres Sikka sebenarnya akan menjemput paksa HJM di Kalimantan. Informasi keberadaannya sudah diketahui. Namun, HJM meyakinkan bahwa dirinya tidak mungkin akan lari dan siap menyerahkan diri.

Dalam kurun waktu kejadian (2008 – 2002), HJM alias Herman Jumat Masan adalah pastor projo pada Keuskupan Larantuka. Dia ditempatkan oleh Uskup Larantuka sebagai pendamping rohani (socius) di TOR Lela dan dipindahkan ke Perkebunan Keuskupan Larantuka di Hokeng pada 2006.

Karena serentetan kasus yang dilakukan HJM, Uskup Larantuka kabarnya memecat HJM sebagai imam projo keuskupan Larantuka.

“Kami sudah tetapkan Herman Jumat Masan alias Herder sebagai tersangka. Alat bukti sudah kuat. Dia sudah mengakui perbuatannya,” ujar Kasat Reskrim Polres Sika AKP Achmad, Senin, kemarin.

Saksi Kunci bernama Sfi

Menurut informasi, Sfi adalah seorang ibu yang berdomisili di Kota Maumere. Setelah lepas dari MG, HJM menjalin hubungan dengan Sfi. Sfi sudah tinggal bersama HJM dan keduanya sudah sempat membangun rumah untuk kediaman mereka di kampung halaman HJM, di Lamahelan, Adonara.

Mereka berniat menikah tetapi rencana itu kabarnya tidak direstui orang tua HJM. Merasa tidak ada kepastian Sfi kembali ke Maumere. Dalam salah satu pembicaraan bersama HJM, Sfi bertanya soal kelanjutan hubungan mereka. HJM mengatakan, hubungan mereka sudah putus, alias tidak bisa dilanjutkan.

Sfi merasa sakit hati. Sfi pun membeberkan kejadian pembunuhan MG oleh HJM kepada beberapa pemimpin agama di Maumere. Tetapi, beberapa pemimpin agama ini tidak percaya atau ragu-ragu dengan informasi tersebut. Pengakuan dan informasi itu tidak ditindaklanjuti.

Bagaimana Sfi bisa tahu informasi tersebut. Ada dua versi beredar. Pertama, Sfi tahu informasi itu karena HJM pernah keceplosan berbicara kepada Sfi pada saat mereka sedang bertengkar. HJM mengatakan kepada Sfi, bisa jadi untuk mengintimidasi Sfi, bahwa dirinya pernah membunuh orang di Lela. Ketika keduanya berkunjung ke Lela, HJM sempat mampir ke TOR Lela dan berdiri lama, termenung dan diam pada dua tempat penguburan tiga jenasah tersebut.

Kedua, HJM menceriterakan, barangkali sebagai curahan hati, bahwa dirinya telah membunuh MG dan bayinya. Dia menguburkan mereka di TOR Lela. Ketika berkunjung ke Lela, HJM menyempatkan diri mengunjungi tempat dia menguburkan ketiga jenasah tersebut dan berdoa demi memohon ampun kepada MG dan anaknya atas perbuatannya.

Keluarga MG Terus Mencari, HJM Susun Skenario

Sejak berita menghilangnya MG pada 2002, sepuluh tahun lalu, keluarga MG terus mencari keberadaan MG. Sebagai orang yang paling dekat dengan MG, HJM pun dimintai informasi. HJM senantiasa menyusun skenario bahwa MG masih hidup.

Menurut informasi, setelah penguburan, HJM kemudian menulis surat ke orangtua MG di Adonara. Isinya antara lain, “Mama,,, tidak usah mencari saya karena saya pindah tugas di Jakarta. Nanti saya akan beritahu, tempat tinggal dan alamat baru saya.” Tertanda Merry Grace.

HJM pun mengatakan kepada keluarga MG, bahwa MG senantiasa berpindah-pindah tempat, dari Jakarta, Bandung, dan Kalimantan. Dalam kurun waktu itu, keluarga MG senantiasa terus berharap MG segera kembali ke kampung halaman.

Rekan Pastor Ikut Menanyai HJM

Sumber inilahFlores mengungkapkan, beberapa sejawat pastor pun mendekati HJM untuk menanyai keberadaan MG. Disinyalir, rekan sejawat pastor HJM telah mengetahui kabar kehamilan MG dan sejauh mana hubungan keduanya. Namun, HJM sekali lagi berkelit dengan mengatakan, dirinya tidak tahu keberadaan MG.

Dalam proses pencarian itu, HJM sempat memberikan nomor telpon MG kepada salah satu rekan pastor HJM. Rekan pastor itu mencoba menghubungi nomor tersebut dan berhasil berbicara dengan seorang perempuan yang diduga MG.

Tetapi, banyak yang menduga, setelah peristiwa ini merebak, hal itu adalah siasat yang sudah diatur HJM dengan perempuan yang berhasil dibujuknya supaya bertindak seolah-olah sebagai MG. HJM melakukan ini untuk memperkuat alibi bahwa MG masih hidup.

Sejak telpon itu tersambung dengan perempuan yang mengakui dirinya MG itu, pencarian MG pun mulai surut.

Diduga HJM membunuh MG, HJM Mengelak

Sebelum menyerahkan diri, kabar yang beredar bahwa HJM diduga kuat membunuh MG. Ada dua versi bagaimana HJM membunuh MG. Pertama, MG dibunuh dengan cara dicekik. Kedua, MG dipukul dengan benda tumpul. Versi pertama datangnya dari informasi yang beradar di sekitar masyarakat. Sementara itu, versi kedua dispekulasi publik berdasarkan hasil visum, yang kabarnya ada lubang di tengkorak kepala MG.

Sumber inilahflores mengatakan, HJM mengelak dikatakan sebagai pembunuh MG. Menurut dia, MG mengalami pendarahan hebat ketika melahirkan anak kedua. Pendarahan dalam kurun waktu lama itulah yang menyebabkan MG akhirnya meninggal.

Beberapa Calon Pastor Pernah Menggali sebuah Lubang Depan Kamar HJM

Beberapa calon imam projo, menurut Sumber inilahflores, yang menghuni TOR Lela pada 2002 lalu pernah menggali sebuah lubang dengan kedalaman sekitar 1,5 meter. Lubang galian itu persis berada di depan kamar tidur/tempat huni HJM saat masih di TOR Lela. HJM yang memerintahkan calon-calon imam itu menggali lubang tersebut dengan alasan untuk membuat kolam ikan. Namun, tanpa alasan yang jelas, lubang tersebut kembali ditutup. HJM hanya mengatakan, lubang itu akan digunakan untuk menanam pohon pinang. Kuat dugaan lubang tersebut digunakan sebagai tempat penguburan MG.

Kasus Terkuak karena Sfi mendekati keluarga MG

Tahun 2011, Pastor Peter Payong, SVD yang adalah keluarga dekat MG kembali dari tugas pastoralnya di Filipina dan menetap di Maumere. Sfi mendekati Pastor Peter untuk melaporkan kejadian sebenarnya. Pastor Peter meminta agar keluarga MG di Adonara melakukan upacara adat untuk mengetahui apakah MG masih hidup atau sudah meninggal. Upcara adat itu pun dilakukan dan MG dinyatakan telah meninggal.

Lalu Pastor Peter berkoordinasi dengan pemimpin agama, pemerintah, dan kepolisian setempat untuk menindaklanjuti informasi Sfi tersebut. Pada 27 Januari lalu, dari keterangan Sfi itu, bersama semua pihak dilakukan penggalian tempat yang diduga telah dikuburkan tiga jenasah tersebut. Tepat seperti apa yang dikatakan Sfi, pada dua lubang berbeda itu ditemukan tiga jenasah.

MG dimandikan,  dikuburkan dengan tangan terkatup bersama Rosario

Sebelum menguburkan MG, HJM sempat memandikan MG. Sumber inilahflores mengatakan, HJM juga mengatur posisi jenasah MG untuk dikuburkan. Dia mengenakan MG pakaian dengan rapi, mengatupkan kedua tangan MG dan meletakkan rosario pada kedua tangan MG. (iF02)

Berita Survei Terbaru , , , ,

Related Posts

2 Comments


  1. Alfons Liwun, 1 tahun ago Reply

    wah…sadis banget. benar2 biadab. Tdk merasa berdosa selama belasan tahun. Kamu lari dan bohong dgn cara apapun juga, Tuhan pasti akan membuka perbuatan jahat dgn cara yang lain. Sepandai-pandanya tupai melombat, akhirnya jatuh juga.


  2. Putra Adonara, 9 bulans ago Reply

    Wah……… memalukan. Karena sama-sama merasa rohaniawan/ti seolah sudah suci sekali akhirnya kalah juga malaikat dari setan. Coba ngukur diri sbg manusia juga yang punya daging. Katanya roh itu kuat tapi daging itu lemah. Ya terima donk daging itu lemah. Keluar aja dari pastor.. fair ..lalu kawin saja. Jelas dan lebih elegan…….. Hei …romo-romo…jangan tiru itu…….kalau gak tahan …keluar aja lalu kawin….aja….Fair khan….kasihan….anak orang.


Leave a Reply

Hubungi Kami

PT Flores Media Research
Email : redaksi@inilahflores.com
Redaksi inilahflores.com menerima tulisan, liputan publik, foto, dan video. Kritik dan usul saran Anda kami tunggu melalui email redaksi