Gadis Sikka dalam Balutan Kimang

Gadis Sikka dalam Balutan Kimang

Posted by at 3 December, at 19 : 20 PM Print

Kris Bheda Somerpes

inilahFLORES – Dalam status social, adat dan budaya pada hampir sebagian besar suku di dunia, termasuk suku-suku di Indonesia meletakkan perempuan pada tempat yang bermartabat. Terlepas dari faktor cultural-kosmic masing-masing suku yang beranggapan bahwa perempuan adalah bunda dari segenap kehidupan, tak pelak pula disimpulkan bahwa (jika dirunut dalam sejarah masing-masing suku dan bangsa) semuanya diawali dari perjuangan yang panjang dalam usaha melawan diskriminasi, kesenang-wenangan dan pengabaian terhadap perempuan.

Salah satu suku di Indonesia, secara khusus di Flores Nusa Tenggara Timur yang meletakkan perempuan pada posisi yang bermartabat lantaran hasil dari perjuangan yang panjang melawan diskriminasi terhadap kaum perempuan di masa silam adalah suku Sikka di Maumere.

Simbol-simbol yang selanjutnya menjadi ukuran martabat perempuan Sikka tidak hanya dapat dilihat dari belis yang dimintakan kepada pihak keluarga laki-laki ketika proses pertunanganan dimulai. Tetapi juga dari pakaian yang dikenakan perempuan Sikka ketika proses penikahan adat dilangsungkan.

Perihal itu di Sikka ada adagium yang berbunyi “Du’a utan(g)ling labu welin(g)” yang arti dan atau maknanya kurang lebih “kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai, berharga”. Adagium ini sebenarnya memendar banyak makna. Salah satunya seperti terpatri dalam setelan baju Kimang. Sepasang baju yang dikenakan pengantin pada ketika acara pernikahan adat dilangsungkan.

Dalam perjumpaan saya secara pribadi dengan orang-orang Sikka ketika bercerita dan memintai pendapat tentang setelan baju Kimang, saya menemukan tiga hal menarik yang dalam dan melalui baju Kimang seorang perempuan atau gadis Sikka tampak begitu bermartabat.

Pertama, dalam bentuk uang jika diadakan atau dibeli. Coba dibayangkan dan selanjutnya diuangkan dari catatan informatif berikut ini: setelan Kimang terdiri dari bawahan berupa sarung tenun ikat bermotif dan atasan berupa baju sulam yang dipadu dengan sejenis selendang yang disebut “dong”. Perhiasan yang mewarnainya terdiri atas kalar gelang dari gading yang harganya jutaan rupiah, kalung leher, anting yang terbuat dari emas, dan “ala gadeja” (perhiasan penutup wajah dan hanya dikenakan oleh oleh perempuan yang masih perawan) yang terdiri dari kain dan benang¬benang yang dihiasi dengan emas yang juga mencapai jutaan rupiah.

Selanjutnya, tataan rambut disanggul ke atas, diikat dengan gelang atau benang emas, dan pada rambut yang disanggul terdapat tiga tusuk konde emas (soking telu). Tiga tusuk konde ini melambangkan tiga tahap perkawinan yang dimulai dari  persiapan, penentuan belis dan (sampai pada) upacara perkawinan itu sendiri.

Kedua, harga rasa jika dilihat secara estetis. Ada pesona yang ditawar-pendarkan jika mengenakan Kimang, apalagi jika pasangan pengantin perempuannya masih perawan. “Kalau nikah suci, atau nikah mulia perempuan yang mengenakan Kimang tampak lebih anggun, cantik dan menawan” demikian kesaksian orang-orang Sikka. Kesaksian yang lain “Sekalipun dipoles dengan kosmetik jenis apa pun, tetapi jika yang mengenakan Kimang adalah perempuan yang sudah tidak perawan, akan tampak berbeda, kelihatan tidak segar”. Boleh percaya atau tidak, tapi kesan umum di Sikka demikian.

Ketiga, secara moral dan cultural Kimang menunjukkan tentang tingkat kejujuran. Sebab sesungguhnya, tidak semua pasangan pengantin, secara khusus pengantin perempuan dapat mengenakan Kimang begitu saja. Kata orang-orang Sikka, ketika sang pengantin perempuan mengenakan Kimang mata akan dengan tanggap melihat “oh ini anak perawan atau tidak”. Kasat mata, hal itu dapat dilihat dari apakah pengantin perempuan mengenakan “ala gadeja” (perhiasan penutup wajah) atau tidak ketika pernikahan adat dilangsungkan. Jika “ala gadeja” dikenakan pengantin perempuan pada ketika upacara pernikahan dilangsungkan maka hal itu menunjukkan pengantin perempuan masih perawan, namun jika tidak, jelas mau apa dikata.

Namun, poin terakhir ini (sekali lagi) hanya dapat diukur dengan niat baik dan kejujuran sang pengantin. Namun pula, percaya atau tidak, mata ibu-ibu, mama-mama Sikka dapat melihat dengan amat jelas nilai tersebut. Sampai saya berkesimpulan bahwa mata keyakinan moral dan cultural tidak dapat dibohong.

Demikianlah tiga harga Kimang yang dapat ditakar. Dalam dan melaluinya martabat perempuan ditampil-kedepankan. Tidak dapat dielak bahwa melampaui dari segala jumlah harta benda yang diuangkan, harta terbesar dalam kehidupan berbudaya adalah ketulusan dan kejujuran itu sendiri. Dan perihal itu, menjadi norma universal yang dapat ditemukan pada segala tempat dan suku. Dan di Sikka, nilai itu, salah satunya, ditunjukkan dalam dan melalui Kimang.

Busana Terbaru Ulasan , ,

Related Posts

Leave a Reply

Hubungi Kami

PT Flores Media Research
Email : redaksi@inilahflores.com
Redaksi inilahflores.com menerima tulisan, liputan publik, foto, dan video. Kritik dan usul saran Anda kami tunggu melalui email redaksi