Larantuka – Maumere: 10 Keunikan Flores yang Mengguncang Dunia

Larantuka – Maumere: 10 Keunikan Flores yang Mengguncang Dunia

Posted by at 15 November, at 09 : 45 AM Print

Bagian 1

inilahFLORES – Pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menyita perhatian dunia karena menyimpan kedasyatan panorama alam, sejarah, dan budaya yang magnetis. Beberapa keunikan itu bahkan telah mengguncang dunia karena semua orang di belahan dunia ini berhasrat kuat untuk mengunjunginya.

Seorang guru dari Padang hanya bisa mengatakan “subhanalah” atas keindahan dan keunikan Pulau Flores. Sementara itu, beberapa wisatawan asing yang pernah mengunjungi dan tinggal di Flores mengatakan, “if you want to know more about what the meaning of beautiful, you must go to the Flores Island.”

Simak 10 keunikan yang mengguncang dunia dari pulau yang luasnya hanya sekitar 14.300 km² bersama tiga pulau besar lainnya di NTT – Pulau Sumba, Timor, Alor – dan memiliki sekitar 566 pulau kecil.

Semana Santa di Larantuka

Semana Santa adalah perayaan Pekan Suci menjelang Paskah – Hari Raya Kematian dan Kebangkitan Kristus – di Larantuka, sebelah timur Pulau Flores. Perayaan yang berpuncak pada prosesi Jumat Agung itu merupakan peninggalan Portugis. Dalam perayaan itu, ada dua patung peninggalan Portugis yang diarak masuk ke Kota Reinha Rosari Larantuka. Kedua patung yang menjadi mitos dan pusat penyembahan itu adalah Tua Ma (Bunda Maria, Mater Dolorosa, red) yang berusia lebih dari 500 tahun dan Tua Ana (Tuhan Yesus, red).

Tradisi dan perayaan sakral umat Katolik ini merupakan warisan Portugis itu, sudah berlangsung lebih dari 500 tahun ketika bangsa Portugis menyebarkan agama Katolik dan berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara. Prosesi Jumat Agung itu diawali dari perayaan Rabu Trewa. Trewa dalam tradisi Gereja Katolik artinya bunyi-bunyian, namun ritual keagamaan yang satu ini sudah jarang dilakukan oleh Gereja Katolik lainnya, kecuali gereja-gereja Katolik yang ada di wilayah Keuskupan Larantuka, yang terbentang mulai dari Flores Timur daratan, Pulau Adonara, Solor, dan Lembata.

Gereja Katolik setempat mengizinkan bunyi musik atau bunyi benda lainnya seperti lonceng gereja hingga pukul 20.00 Wita. Selepas pukul 20.00 Wita menjelang perayaan Kamis Putih pada keesokan harinya, tidak lagi terdengar bunyi-bunyian tersebut. Larantuka larut dalam sepi, seperti kota mati demi mengenang kisah sengsara Yesus Kristus sampai wafat di kayu salib pada Jumat Agung. Sebelum tibanya Jumat Agung, umat Katolik dan para peziarah lainnya merayakan misa untuk mengenang perjamuan malam terakhir antara Yesus Kristus dengan murid-muridNya pada perayaan Kamis Putih.

Pada pagi harinya di hari Kamis Putih itu, patung Tuan Ma yang tersimpan di Kapel Maria Pante Kebis itu mulai dimandikan oleh lima suku besar di Larantuka. Upacara pemandian ini tertutup untuk umum. Namun, setelah pemandian, para peziarah biasanya mengambil air mandi bekas pemandian Tuan Ma di sebuah bak penampungan lalu dipindahkan ke botol untuk dibawa pulang. Air bekas pemandian Tuan Ma itu diyakini memiliki khasiat.

Tuan Ma hanya dikeluarkan setahun sekali saat tibanya perayaan Paskah. Untuk pertama kalinya, hanya keluarga kerajaan yang boleh mencium Tuan Ma. Umat  mulai melakukan lamentasi (ratapan Nabi Yeremia) hingga Jumat pagi di Gereja Katedral Larantuka. Dari titik lamentasi itu, para peziarah diizinkan untuk mencium Tuan Ma di Kapel Pante Kebis dan Tuan Ana di Kapel Lohayong.

Upacara ini sudah melalangbuana hingga ke segala penjuru dunia. Banyak wisatawan asing maupun dalam negeri yang selalu tertarik dan ingin menyaksikan tradisi tersebut. Setiap tahun, program tour dan travel di seluruh penjuru dunia akan menawarkan tradisi itu sebagai wisata rohani.

Penangkapan Ikan Paus di Lamalera

Di Pulau Lembata, tepatnya di Lamalera, tradisi penangkapan ikan paus secara tradisional hidup di daerah tersebut sejak abad ke-16. Sebelum berburu ikan paus, masyarakat setempat berdoa agar perburuan itu berhasil. Para pemburu ikan paus itu hanya dibekali satu senjata, yakni tombak yang disebut tempuling. Senjata itu dibuat dari bambu panjang yang ujungnya diruncing dan dilapisi besi tajam. Ketika ujung tombak itu sudah berhasil menghujam tubuh raksasa ikan paus, para pemburu tradisional itu akan mengikuti saja pergerakan ikan paus hingga mati lemas oleh luka di tubuhnya. Tidak jarang nelayan tradisional dari pulau ini sering terdampar jauh dari tempat mereka tinggal karena terseret ikan paus yang terus menerus berusaha membebaskan diri dari penangkapan tersebut. Ikan paus yang berhasil ditangkap, dagingnya akan dibagikan untuk seluruh kampung.

Para pemburu ikan paus itu disebut lamafa, sedangkan sampan tradisional yang terbuat dari kayu, yaitu kendaraan para lamafa mengejar ikan paus itu disebut paledang. Ada suku atau orang-orang tertentu saja yang mempunyai keterampilan dan keahlian, juga pengetahuan tradisional untuk membuat paledang.

Jika ada lamafa yang gugur dalam perburuan ikan paus itu, diyakini bahwa orang tersebut “belum bersih.” Dalam arti, urusan di darat masih ada yang tertinggal, seperti ada perselisihan, pertengkaran, atau pelanggaran atas norma susila dan adat istiadat serta tradisi masyarakat setempat.

Tradisi penangkapan ikan paus ini biasanya terjadi pada bulan Mei. Tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan wisata ke Flores dan telah menjadi salah satu ikon pariwisata dunia.

Taman Laut Sao Wisata dan Wisata Pantai di Sikka

Sao Wisata atau Flores Soa Resort & Diving Center terletak di pantai Waira, sekitar 8 km dari “Waioti” Airport dan 10 km dari Kota Maumere di bagian Barat Pulau Flores.

Sao Wisata terletak tepat di pantai. Dinaungi oleh pohon kelapa. Resor ini didirikan di arsitektur alam, modern dan sederhana, tapi nyaman dan bersih. Semua kamar/cottage disediakan dengan swasta, shower kamar mandi dan balkon. 16 kamar dengan udara-AC dan 6 ruang dengan Fan.

Sao Wisata adalah resor ideal bagi penyelam untuk menjelajahi 40 lokasi penyelaman yang berbeda di Taman Laut Teluk Maumere. Menyelam ke dalam air yang jernih dengan visibilitas normal 60-150 yeard dan suhu yang tepat dari 26-28 derajat Celsius, di mana Anda akan melihat lebih banyak spesies ikan dari tempat lain dan kehidupan laut yang menarik.

Selain Sao Wisata, ada beberapa tempat wisata pantai yang menarik di Maumere. Selain memiliki pasir putih yang indah, panorama bawah lautnya tidak bisa dipungkiri menyimpan daya magnet keindahan luar biasa. Sebut saja di tempat ini, ada Pantai Wair Terang, di Waigete, sekitar 23 km dari Kota Maumere, Wodon Beach di tempat yang sama, Tanjung Beach, dan Pulau Palu’e.

Ada juga Pantai Koka dan Paga Beach, di Kecamatan Paga yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Maumere. Kelebihan pantai ini, selain memiliki bentangan pasir putih yang indah, pantai ini memiliki kontur bebatuan raksasa yang timbul di tengah laut. Batuan raksasa itu ditumbuhi sejumlah rumput hijau dan menjadi seperti replica pulau-pulau kecil di tengah laut. Di wilayah ini kita bisa melihat pahat tradisional dan tenun ikat, selain pemandangan sawah terbentang yang melengkapi keindahan pasir putih.

Wisata Rohani di Sikka

Selain kekayaan pantai yang indah, Maumere terkenal dengan wisata rohani sejak dari dulu. Ada beberapa tempat wisata rohani yang sudah mendunia dan sering menjadi objek wisata. Di antaranya Patung Kristus Raja yang dibuat pada masa pemerintahan Don Ximenes da Silva. Patung ini sempat hancur karena dibom tentara Sekutu pada akhir perang dunia kedua, namun kembali direnovasi dan dibangun pada 1989. Pertama kali diresmikan oleh Mgr Vestrallen, Vikep Sunda Kecil dan kembali diresmikan sejak dibangun lagi oleh Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungannya ke Flores pada 1989. Dari tuturan saksi mata yang menyertai sejarah mistis dan menjadikan Patung ini sebagai pelindung Kota Maumere adalah kisah sebaliknya yang menyebutkan patung ini tidak hancur oleh bom tetapi oleh tentara Jepang yang mabuk dan stress akibat perang. Pada saat gempa tektonik 1992 dan tsunami dasyat di Maumere, saksi mata melihat patung ini berbalik dan merentangkan tangannya untuk melindungi Kota Maumere.

Selain Kristus Raja, ada juga Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, Kecamatan Nita. Patung ini berada di sebuah puncak seolah-olah Bunda Maria sedang memandang keseluruhan wilayah Maumere. Dari ketinggian itu, seluruh Kota Maumere dan seisi keindahannya bisa dipandang.

Ada juga Watu Crus, yakni salib jejak peninggalan Portugis ketika menyebarkan agama Katolik di daerah ini. Sebuah salib ditancapkan pada batu karang di tengah laut di Kecamatan Bola. Dari pinggir jalan, salib itu bisa dilihat dan menjadi pelindung pesisir pantai selatan wilayah Maumere.

Di Sikka, ada gereja tertua di wilayah ini, gereja Sikka. Jika Larantuka memiliki tradisi Semana Santa, gereja Sikka juga menyimpan tradisi yang sama. Paskah tahun 2011 lalu, tradisi itu dihidupkan kembali. Tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan antara tradisi Semana Santa di Larantuka dan di Sikka, kalau tidak mau dikatakan sama. Pasalnya, tradisi ini sebenarnya datang dari sumber yang sama, yaitu misionaris Portugis yang menyebarkan agama Katolik.

Selain tiga situs wisata rohani itu, ada juga Wisung Fatima di Lela, St Maria Watu Soking di Waigete, dan Salib Suci di Mauloo.(eman susento/iF02)

Terbaru Top 10 Ulasan Wisata , , , ,

Related Posts

Leave a Reply

Hubungi Kami

PT Flores Media Research
Email : redaksi@inilahflores.com
Redaksi inilahflores.com menerima tulisan, liputan publik, foto, dan video. Kritik dan usul saran Anda kami tunggu melalui email redaksi