Kita Adalah Pemimpin

Kita Adalah Pemimpin

Posted by at 8 October, at 08 : 52 AM Print

Oleh Abraham Runga Mali*)

Mungkin sebagian besar dari kita masih terpukau pada fenomena Joko Widodo (Jokowi) yang tampil menjadi seorang pemimpin. Dia menjadi antitesis dari berbagai profil pemimpin yang dikenal selama ini seperti berwibawa, sulit dijangkau, kharismatik dan seterusnya. Jokowi tampil bersahaja, dekat dan menjadi bagian dari masyarakat. Kita berharap selanjutnya dia bisa mempengaruhi banyak orang untuk menciptakan Jakarta yang lebih baik.

Namun, lupakan sejenak euforia Jokowi. Kita bicara soal pemimpin dan kepemimpinan pada umumnya. Untuk itu, saya berutang budi pada pemikiran John C. Maxwell, baik dalam buku bertajuk The Irrefutable Laws of Leadership (21 Hukum Kepemimpinan Sejati, 1998) maupun dalam buku-buku lain seperti Leadership 101: What Every Leader Needs to Know (2002), Failing Forward: How to Make the Most of Your Mistakes (2000), Attitude 101 (2002), Running with the Giants: What Old Testament Heroes Want to Know about Life and Leadership (2002), The Differencer Maker: Making Your Attitude Your Greatest Asset (2006).

Berkali-kali Maxwell menegaskan bahwa pada saat kita bisa mempengaruhi sesama untuk mendukung pencapai sebuah tujuan, kita adalah pemimpin, tak perlu menunggu menjabat sebuah posisi atau memangku sebuah status yang tinggi.

Dalam pengalaman kita sehari-hari, ada orang yang menduduk jabatan yang tinggi, tapi dalam dirinya dia tidak memiliki kemampuan mempengaruhi orang lain. Atau, dia baru bisa memberi ‘pengaruh’ kalau harus menyertakan embel-embel direktur, komisaris dan manajer, gubernur, bupati, camat dstnya. Lebih parah lagi, kalau orang lain diancam untuk dipecat, dimutasi atau diekskomunikasikan lebih dulu supaya mau menuruti perintahnya. Orang itu pejabat, tapi bukan pemimpin.

Biasanya jabatan pada orang-orang seperti itu besar diperoleh melalui transaksi, manipulasi atau kekerasan. Salah satu ciri kepemimpinan mereka yang paling menonjol adalah: “injak ke bawah, jilat ke atas”. Anak buahnya disuruh ‘manut’ tanpa sikap kritis.

Namun, suatu saat kalau anak buahnya itu mendapatkan kesempatan menjadi pejabat di posisi sekecil apa pun—karena pengalaman sering mendapat tekanan— juga akan ‘suka main kuasa’ seperti ‘pempimpin’ yang sebelumnya. Qualis dominus, talis et servus: bagaimana majikannya, demikian pula kacungnya. (as is the master, so is the servant)

Atau sekadar membandingkan dengan pandangan para pemikir Yunani kuno seperti Aristoteles, orang-orang yang tidak memiliki argumentasi yang kuat (logos), tidak bisa berempati pada orang lain (pathos) dan tidak bisa dipercayai (ethos), terutama karena yang diomongkan dan yang dipraktekan sering bertolak belakang , tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain, atau tidak layak menjadi pemimpin.

Perhatikan apa yang ditulis Maxwell berikut ini, “Our ability to build and maintain human relationships is the single most important factor in how wo get along—in every area of our life.”

Maxwell menyebutkan 21 nilai atau prinsip hidup yang harus dihayati seseorang untuk memiliki kemampuan ‘memimpin’. Menurut dia, memasuki area kepempinan seseorang harus memiliki visi tentang kehidupan yang lebih baik. Kita harus tahu, ada sesuatu yang ‘lebih’ yang menggerakakkan kita untuk berubah, maju dan meninggalkan status quo.

Visi kepemimpinan adalah semangat dan kemampuan melihat yang lebih baik dari yang ada sekarang. Maxwell menyebutnya dengan Hukum Katup (hukum 1). Keterbukaan katup, memperlihatkan kemampuan untuk melihat kebaikan di seberang sana. Katup yang tertutup adalah kebekukan hati dan pikiran yang ingin tinggal dalam kekinian, puas dengan apa adanya, merasa cukup.

Visi perubahan itu harus dirumuskan dalam tujuan. Seorang pemimpin harus mengetahui kemana kehidupan ini harus dituju. Bagaimana orang-orang disekitar kita digerakkan dan dipengaruhi, kalau kita tidak tahu kemana energi orang-orang disekitar Anda harus diarahkan? Dalam Hukum Navigasi (hukum 4) dan Hukum Prioritas (hukum 17), Maxwell membicarakan hal tersebut.

Dari sanalah kita bisa menentukan skala prioritas, mana yang penting dan tidak, mana yang mendesak atau tidak. Kalau kita tahu tujuan, maka kita pun tahu kapan kita disebut pemenang. Kalau tujuan itu belum tercapai, hati dan pikiran kita akan terus terganggu. Kita akan terus mencari jalan, karena knda tidak mau disebut sebagai pecundang. Itulah Hukum Kemenangan (hukum 15).

Kualitas Personal

Maxwell lebih lanjut mengingatkan bahwa kita jangan bermimpi mempengaruhui orang lain secara optimal, kalau kualitas personal kita tidak meyakinkan. Dia menyebut beberapa nilai penting seperti: memiliki kehormatan (hukum 7), mempunyai karakter yang kuat yang bisa menjadi landasan yang mantap (hukum 6), memiliki semangat berkorban (hukum 18). Kita juga harus memilki hubungan yang baik dengan orang lain (hukum 10), bergaul dengan orang-orang yang tepat yang bisa mendukung tujuan kita dan orang-orang yang dipimpin dalam sebuah komunitas (hukum 11).

Selain itu, kita harus menjadi pribadi yang simpatik, menarik orang lain dan memiliki kesatuan antara kata dan perbuatan, bisa dipercayai janji-janjin, ide dan pikiran kita didengarkan karena keluar dari komptensi dan keseriusan untuk mencapai kepentingan bersama, bukan mememanfaat orang lain untuk kepentingan diri sendiri. Maxwell membicarakan hal-hal tersebut dalam Hukum Daya Tarik (9), Hukum E.F Hutton (5), Hukum Kepercayaan (14).

Kalau kita memiliki sejumlah kualitas personal seperti di atas, maka kita mudah mensinergikan kemampauan rekan-rekan dalam komunitas itu untuk mencapai tujuan bersama. Seroang pemimpin mestinya bisa memberdayakan orang lain (hukum 12). Agar pemberdayaan itu lebih optimal, kita harus bisa menciptakan banyak pemimpin dalam komunitas. Maxwell menyebutnya sebagai Hukum Reproduksi (13). Dengan semakin banyak orang yang terlibat untuk mencapai kemenangan bersama melalui banyak pemimpin-itu, maka akan tercipta sebuah pertumbuhan yang eksplosif (hukum 20).

Kepemimpinan itu tidak terjadi dalam ruang hampa. Kepemimpinan berlangsung dalam ruang dan waktu tertentu. Untuk mencapai tujuan, bersama orang-orang yang kita pimpin, kemampuan untuk bersabar dalam proses (hukum 3) sangatlah diperlukan. Selain itu, kita harus pandai mencermati peluang untuk tampil pada saat yang tepat serta menggunakan momentum yang benar. Maxwell menyebutnya sebagai Hukum Waktu Yang Tepat (19) dan Hukum Momentum Besar (16).

Pengalaman kita dalam proses kepemimpinan serta kemampuan membaca peluang dalam situasi berdasarkan informasi yang selektif akan membawa seorang pemimpin pada kemampuan memiliki intuisi. Seorang pemimpin harus memiliki intuisi (hukum 8). Dan terakhir, yang tidak kalah penting adalah kualitas kepeminanan seseorang sangat ditentukan oleh kemampuan untuk menyiapkan penggantinya. Berhenti memimpin pada saat yang tepat, adalah bagian dari kemampuan memimpin. (Hukum 21).

*)Penulis adalah Redaktur Pelaksana Harian Bisnis Indonesia

Opini Terbaru , ,

Related Posts

Leave a Reply

Hubungi Kami

PT Flores Media Research
Email : redaksi@inilahflores.com
Redaksi inilahflores.com menerima tulisan, liputan publik, foto, dan video. Kritik dan usul saran Anda kami tunggu melalui email redaksi